Selasa, 03 Nov 2026 PolitikEkonomiNasionalHiburanTokoh
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Profil Ahrie Sonta: Mantan Sekpri Listyo Sigit, Ajudan Presiden, dan Jejaknya di Lingkaran Istana

✍️ Adi M 🕒 03 Nov 2026 👁️ 1x dibaca
Inspektur Jenderal Polisi Ahrie Sonta Nasution bersama ibunda
Inspektur Jenderal Polisi Ahrie Sonta Nasution bersama ibunda Foto: Istimewa

Prolog.id – Nama Inspektur Jenderal Polisi Ahrie Sonta Nasution menjadi salah satu perwira yang perjalanan kariernya menarik untuk ditelusuri. Perwira tinggi Polri ini pernah bertugas sebagai Sekretaris Pribadi (Sekpri) Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, kemudian terpilih menjadi ajudan Presiden Prabowo Subianto dari unsur kepolisian, sebelum dipercaya menduduki jabatan strategis di Mabes Polri.

Perjalanan tersebut menempatkan Ahrie dalam dua lingkungan penting, yakni lingkaran pimpinan tertinggi Polri dan lingkungan kepresidenan. Namanya mulai mendapat perhatian luas ketika menjadi Sekpri Listyo Sigit pada 2021. Saat itu, ia termasuk perwira yang mendampingi Listyo dalam sejumlah agenda kedinasan, termasuk ketika menjalani proses uji kelayakan dan kepatutan sebagai calon Kapolri di DPR.

Hubungan kedinasan dengan Listyo menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya. Pada Oktober 2024, Ahrie kembali mendapat penugasan khusus setelah terpilih sebagai ajudan Presiden Prabowo Subianto.

Lulusan Akpol 2002

Ahrie Sonta Nasution lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 2 April 1981. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2002.

Setelah menyelesaikan pendidikan kepolisian, Ahrie menjalani berbagai penugasan di lingkungan Polri, termasuk di wilayah Jawa Timur, Polda Metro Jaya, dan sejumlah satuan di Mabes Polri.

Ia pernah bertugas di Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya. Ketika menjabat sebagai Kanit Subdit 2 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya pada 2018, Ahrie terlibat dalam pengungkapan sejumlah perkara narkotika.

Salah satu pengungkapan besar yang diberitakan adalah penyitaan narkotika jenis sabu seberat sekitar 1,6 ton dalam pengungkapan sindikat narkotika jaringan Taiwan di perairan Tanjung Berakit, Kepulauan Riau.

Ahrie juga pernah terlibat dalam operasi kepolisian di wilayah Sulawesi Tengah dan Papua, termasuk Satgas Nemangkawi.

Dalam perjalanan pendidikannya, ia mengikuti pendidikan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Sespimen, dan Sespimti Polri. Ia juga tercatat mengikuti sejumlah pendidikan dan pelatihan kepolisian di luar negeri, antara lain di Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat.

Ahrie menyandang gelar doktor Ilmu Kepolisian. Disertasinya mengangkat tema reformasi kultural Polri, sebuah topik yang berkaitan dengan perubahan budaya organisasi dan profesionalitas kepolisian.

Informasi mengenai riwayat pendidikan dan penugasannya tersebut diberitakan ANTARA, detikNews, dan Kompas.com.

 

Dipercaya Menjadi Sekretaris Pribadi Listyo Sigit

Perjalanan karier Ahrie memasuki babak penting pada Februari 2021. Saat itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan rotasi dan mutasi sejumlah perwira di lingkungan Polri.

Berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/318/II/KEP/2021 tertanggal 18 Februari 2021, Ahrie yang sebelumnya menjabat Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok mendapat penugasan baru sebagai Sekretaris Pribadi Kapolri pada Staf Pribadi Pimpinan (Spripim) Polri.

Posisi Sekpri memiliki tugas membantu pimpinan dalam pelaksanaan kegiatan kedinasan, pengaturan agenda, koordinasi, serta kebutuhan administrasi dan komunikasi pimpinan.

Dalam konteks tersebut, Ahrie bekerja langsung di lingkungan Kapolri Listyo Sigit. Penugasan ini membuatnya memiliki akses kedinasan terhadap berbagai aktivitas pimpinan tertinggi kepolisian.

Sebelum resmi menjabat Sekpri, Ahrie juga pernah terlihat mendampingi Listyo ketika menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon Kapolri di Komisi III DPR pada Januari 2021.

Kehadirannya di antara sejumlah perwira tinggi yang mendampingi Listyo menjadi salah satu momen yang membuat namanya mulai dikenal publik.

Pemberitaan detikNews pada 18 Februari 2021 mengonfirmasi pengangkatannya sebagai Sekpri Kapolri.

Hubungan Ahrie Sonta dengan Listyo Sigit Prabowo

Hubungan antara Ahrie dan Listyo Sigit yang dapat dipastikan dari dokumen serta pemberitaan adalah hubungan kedinasan antara pimpinan Polri dan sekretaris pribadinya.

Ahrie bertugas sebagai Sekpri sejak Februari 2021. Posisi tersebut dijalankan ketika Listyo memimpin Polri setelah dilantik Presiden Jokowi pada 27 Januari 2021.

Selama bertugas di lingkungan Kapolri, Ahrie membantu pelaksanaan agenda kedinasan dan tugas-tugas khusus pimpinan.

Kedekatan dalam konteks pekerjaan ini juga terlihat dari sejumlah pemberitaan mengenai kegiatan keduanya. Pada Oktober 2024, misalnya, Listyo secara langsung mengonfirmasi kepada media bahwa Ahrie terpilih menjadi ajudan Presiden Prabowo dari unsur Polri.

Listyo menjelaskan bahwa Ahrie merupakan satu dari enam personel Polri yang mengikuti seleksi untuk menjadi ajudan presiden.

Namun, penetapan Ahrie sebagai ajudan dilakukan melalui proses seleksi yang melibatkan Sekretariat Militer Presiden, bukan semata-mata penunjukan pribadi Listyo.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) melalui anggotanya, Poengky Indarti, juga memberikan tanggapan positif terhadap rekam jejak Ahrie. Ia menyoroti latar belakang pendidikan, pengalaman, dan disertasi Ahrie mengenai reformasi kultural Polri.

Bagaimana Hubungannya dengan Jokowi?

Pertanyaan mengenai hubungan Ahrie Sonta dengan Joko Widodo tidak dapat dilepaskan dari perjalanan karier Listyo Sigit Prabowo.

Sebelum menjadi Kapolri, Listyo pernah menjabat Kapolresta Surakarta pada 2011 ketika Jokowi masih menjadi Wali Kota Solo.

Hubungan profesional tersebut berlanjut setelah Jokowi terpilih sebagai Presiden pada 2014. Listyo kemudian mendapat penugasan sebagai ajudan Presiden hingga 2016.

Setelah menyelesaikan tugas tersebut, karier Listyo terus berkembang. Ia menjabat Kapolda Banten, Kadiv Propam Polri, dan Kabareskrim sebelum akhirnya diusulkan Jokowi menjadi calon tunggal Kapolri pada Januari 2021.

Jokowi kemudian melantik Listyo sebagai Kapolri pada 27 Januari 2021.

 

Pada periode inilah Ahrie mulai bekerja sebagai Sekpri Listyo. Artinya, Ahrie berada di lingkungan pimpinan Polri yang dipimpin oleh seorang mantan ajudan Jokowi.

Meski demikian, hubungan tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa Ahrie merupakan bagian dari lingkaran pribadi Jokowi.

Karena itu, penyebutan kedekatan Ahrie dengan Jokowi perlu ditempatkan dalam konteks hubungan profesional dan rantai penugasan di lingkungan pemerintahan, bukan sebagai klaim kedekatan personal.

Terpilih Menjadi Ajudan Presiden Prabowo

Setelah sekitar tiga tahun lebih bertugas sebagai Sekpri Kapolri, Ahrie mendapat penugasan baru pada Oktober 2024.

Pada 23 Oktober 2024, Kapolri Listyo Sigit mengonfirmasi bahwa Ahrie terpilih sebagai ajudan Presiden Prabowo Subianto dari unsur Polri.

Dalam keterangannya kepada ANTARA, Listyo menyebut Ahrie telah mengikuti seleksi bersama enam anggota Polri lainnya.

Ahrie kemudian menjadi bagian dari kelompok ajudan Presiden yang berasal dari unsur TNI dan Polri.

Penugasan ini menarik karena Ahrie berpindah dari lingkungan kerja pimpinan Polri ke lingkungan kepresidenan. Sebelumnya, ia membantu Listyo Sigit dalam kegiatan kedinasan sebagai Kapolri. Setelah terpilih, ia bertugas mendampingi Presiden Prabowo.

Perubahan penugasan tersebut juga memperlihatkan kesinambungan hubungan antara institusi kepolisian dan lingkungan kepresidenan dalam penempatan personel pengamanan serta pendampingan kepala negara.

ANTARA dan detikNews memberitakan bahwa proses seleksi ajudan dari unsur Polri dilakukan terhadap enam kandidat sebelum Ahrie dinyatakan terpilih.

Dari Ajudan Presiden ke Jabatan Strategis di Divpropam

Penugasan Ahrie sebagai ajudan Presiden tidak berlangsung permanen. Pada Oktober 2025, ia kembali mendapatkan penempatan jabatan di lingkungan Polri.

Kompas.com melaporkan bahwa Ahrie dipromosikan menjadi Penyelidik Pengamanan Internal Utama Tingkat II Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Polri.

Bersamaan dengan penugasan tersebut, ia memperoleh kenaikan pangkat dari Komisaris Besar Polisi menjadi Brigadir Jenderal Polisi.

Kenaikan pangkat tersebut menandai peralihannya dari perwira menengah menjadi perwira tinggi Polri.

Divpropam merupakan unsur pengawasan internal yang memiliki tugas penting dalam penegakan disiplin, kode etik, dan pengamanan internal di lingkungan kepolisian.

Penempatan Ahrie di divisi tersebut membuatnya kembali bertugas dalam struktur internal Polri setelah sebelumnya menjadi ajudan Presiden.

Menjadi Kadivkum Polri pada 2026

Perjalanan jabatan Ahrie berlanjut pada Oktober 2026. Berdasarkan pemberitaan Tribratanews Polri tertanggal 3 Oktober 2026, ia mendapat penugasan sebagai Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri dengan pangkat Inspektur Jenderal Polisi.

Penugasan tersebut tertuang dalam mutasi melalui Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026.

Sebagai Kadivkum, Ahrie memimpin unsur organisasi Polri yang menangani fungsi hukum, termasuk dukungan dan pertimbangan hukum bagi institusi kepolisian.

Perlu diluruskan bahwa Kadivkum berbeda dengan Kadiv Humas. Kadiv Humas menangani komunikasi dan informasi publik Polri, sedangkan Kadivkum berfokus pada bidang hukum.

Dengan jabatan barunya, Ahrie kembali menduduki posisi pejabat utama Mabes Polri setelah sebelumnya bertugas sebagai Sekpri Kapolri, ajudan Presiden, dan pejabat di Divpropam.

Perjalanan Ahrie Sonta Nasution memperlihatkan sejumlah perpindahan penugasan di lingkungan strategis negara. Ia memulai karier dari satuan kewilayahan, kemudian bertugas di lingkungan Kapolri, menjadi ajudan Presiden Prabowo, hingga dipercaya memimpin Divisi Hukum Polri.

Hubungannya dengan Listyo Sigit merupakan bagian yang paling jelas terdokumentasi dalam perjalanan tersebut. Ahrie pernah menjadi sekretaris pribadi Listyo selama lebih dari tiga tahun, sementara Listyo sendiri memiliki riwayat hubungan profesional dengan Jokowi sejak menjabat Kapolresta Surakarta dan kemudian menjadi ajudan Presiden.

Namun, hubungan profesional tersebut tidak otomatis membuktikan adanya hubungan pribadi antara Ahrie dan Jokowi. Untuk menyimpulkan lebih jauh mengenai jejaring keduanya, diperlukan dokumen atau keterangan langsung yang dapat menunjukkan bentuk hubungan tersebut.

Dengan demikian, rekam jejak Ahrie lebih tepat dibaca melalui perjalanan tugasnya di lingkungan kepolisian dan kepresidenan, serta perubahan jabatan yang mengantarkannya menjadi salah satu pejabat utama Mabes Polri.

AM
Adi MRedaktur
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update